Ibu Putri Koster Dorong Endek Jembrana Naik Kelas lewat Seni, Bisnis, dan Perlindungan Hukum
JEMBRANA – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, mendorong kain tenun tradisional endek Jembrana naik kelas dengan memperkuat tiga aspek utama, yakni seni, bisnis, dan perlindungan hukum.
Menurut Putri Koster, ketiga aspek tersebut menjadi kunci agar endek tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi yang layak bagi perajin serta memiliki daya saing di tingkat nasional hingga internasional.
Hal itu disampaikan Putri Koster saat mengisi talkshow di Radio Dirgantara Jembrana, Kamis (27/8/2026), dalam rangkaian Dekranasda Bali Fashion Road Show. Dalam kesempatan tersebut, ia didampingi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali, Gede Agus Astapa.
Putri Koster mengatakan salah satu persoalan utama yang kini dihadapi industri tenun tradisional adalah semakin berkurangnya jumlah penenun yang tidak diimbangi regenerasi.
Kondisi tersebut, menurut dia, salah satunya berkaitan dengan belum seimbangnya nilai ekonomi yang diterima penenun dengan proses, waktu, keterampilan, dan kualitas karya yang dihasilkan.
“Secara global, penenunan kain tradisional endek Bali saat ini mengalami kesulitan penerus yang mau mengerjakan. Tenaga penenun saat ini semakin menipis tanpa ada generasi pengganti. Mungkin karena karya dan harga tidak sesuai,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan akan terus mengawal perkembangan kain tenun tradisional endek Bali, termasuk memastikan adanya keseimbangan antara kualitas kain dan harga jual.
“Selain kualitas, saya akan terus mengawal penyesuaian harga agar kain yang dihasilkan seimbang antara kualitas dan harga,” tegasnya.
Seni, Bisnis, dan Perlindungan Hukum
Putri Koster menyebut pengembangan endek perlu dilakukan melalui apa yang ia sebut sebagai trilogi pengembangan fesyen, yakni seni, bisnis, dan perlindungan hukum.
Seni, kata dia, menjadi unsur yang menjaga identitas, estetika, serta nilai budaya yang terkandung dalam kain tradisional. Sementara bisnis memastikan karya para perajin memiliki nilai ekonomi dan mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Adapun perlindungan hukum diperlukan untuk menjaga hak atas karya, termasuk kekhasan motif yang menjadi identitas suatu daerah.
Jembrana menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pengembangan tersebut karena memiliki sentra tenun dengan motif dan karakter khas. Kekhasan itu, menurut Putri Koster, harus tetap dijaga meski desain endek terus dikembangkan mengikuti perkembangan industri fesyen.
“ Kain itu bisa memberikan dampak estetika yang indah dan juga dampak pada perputaran ekonomi. Dengan desain yang kontinu dan konsisten, saya yakin akan membangkitkan kemampuan kita semua dalam melindungi karya cipta lokal agar mampu bersaing di kancah nasional dan internasional,” katanya.
Menurut dia, pemerintah perlu hadir melalui kebijakan atau politik kebudayaan untuk memastikan warisan budaya tidak kehilangan identitas ketika masuk ke dalam industri dan pasar yang lebih luas.
Tanpa perlindungan, karya lokal berpotensi menghadapi persaingan yang tidak seimbang dan kehilangan kekhasannya.
Masyarakat Diminta Serap Produk Perajin Lokal
Selain mendorong kebijakan, Putri Koster mengajak masyarakat ikut memperkuat ekosistem tenun dengan membeli dan menggunakan produk yang dihasilkan perajin di daerah masing-masing.
Menurutnya, penyerapan produk secara langsung akan menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lokal. Jika pasar semakin kuat, profesi sebagai penenun juga akan memiliki prospek yang lebih baik sehingga dapat menarik minat generasi muda untuk meneruskan keterampilan tersebut.
“Seraplah kain tenun yang masyarakat hasilkan sehingga warga yang ingin mencari kain tenun akan mendatangi sentra tenun di wilayahnya. Dengan demikian, tenun itu bisa bergerak melalui trilogi fashion show, yakni seni, bisnis, dan perlindungan hukum,” ungkapnya.
Putri Koster menilai penggunaan endek dalam busana modern mulai menunjukkan perkembangan. Kain tradisional Bali tersebut kini semakin banyak digunakan, tidak hanya oleh masyarakat Bali, tetapi juga oleh masyarakat dari luar daerah.
“Saya merasa perjalanan kami terengah-engah. Namun, karya tenun tradisional endek Bali saat ini semakin disukai oleh warga Bali. Bahkan, tidak sedikit wisatawan lokal dan pejabat dari luar Bali mulai melirik dan menggunakan pakaian berbahan endek Bali,” katanya.
Fashion Show Jadi Jembatan Tradisi dan Pasar
Untuk memperluas penggunaan dan pasar wastra Bali, Dekranasda Bali secara berkelanjutan menjalankan sejumlah program, yakni Dekranasda Bali Fashion Day, Dekranasda Bali Fashion Week, dan Dekranasda Bali Fashion Road Show.
Ketiga program tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan perajin dengan desainer, pelaku industri, konsumen, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Melalui panggung fesyen, kain tradisional tidak hanya diperkenalkan dalam bentuk aslinya, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk busana yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budaya.
Upaya tersebut diharapkan membuat endek tidak berhenti sebagai simbol warisan budaya, melainkan berkembang sebagai bagian dari industri kreatif yang mampu membuka pasar lebih luas dan meningkatkan kesejahteraan perajin.
KPID Bali Dorong Kesadaran Masyarakat
Sementara itu, Ketua KPID Bali Gede Agus Astapa menilai pelestarian kain tradisional merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat, kata dia, memiliki peran penting dalam menjaga seni, tradisi, dan budaya Bali.
“Sebagai warga Provinsi Bali, tentu tanpa aba-aba sekalipun kita memiliki kewajiban dan kesadaran untuk menjaga seni, tradisi, dan budaya Bali, termasuk memberikan ruang bagi perajin lokal untuk berkarya, dan kita gunakan hasilnya,” ujarnya.
Pesan mengenai penguatan ekosistem wastra Bali tersebut juga disampaikan Putri Koster dalam talkshow di Radio Swara Bahana sebagai bagian dari rangkaian Dekranasda Bali Fashion Road Show di Jembrana.
Penguatan seni, perluasan pasar, peningkatan nilai ekonomi, dan perlindungan hukum diharapkan dapat menjadi fondasi agar endek Jembrana dan wastra Bali secara umum tetap memiliki identitas kuat sekaligus mampu berkembang mengikuti dinamika industri fesyen.
Dengan demikian, pelestarian tradisi tidak hanya berbicara tentang mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga memastikan para perajin mendapatkan kehidupan yang layak dari karya budaya yang mereka hasilkan.
