Putri Koster Gaungkan “Anggrek Kembali”, Dorong Pelestarian Anggrek Lokal Bali

A
Ditulis oleh Admin
Diterbitkan pada 11 September 2026
Sedang Mendengarkan
Putri Koster Gaungkan “Anggrek Kembali”, Dorong Pelestarian Anggrek Lokal Bali

PAI Bali menggandeng Universitas Udayana dan sejumlah lembaga untuk memperkuat konservasi, pengembangan sumber daya genetik, hingga desa wisata anggrek.

DENPASAR — Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali, Putri Koster, mendorong pelestarian anggrek lokal Bali melalui konservasi dan pengembangan sumber daya genetik.

Upaya tersebut menjadi bagian dari gerakan “Anggrek Kembali” untuk mengembalikan anggrek lokal Bali sebagai tanaman yang diminati masyarakat di daerah asalnya.

Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa (8/9/2026).

Putri Koster mengatakan PAI Bali saat ini fokus pada pelestarian anggrek lokal, khususnya pada sektor hulu.

Upaya tersebut dilakukan melalui konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek asli Bali.

Dalam FGD tersebut, PAI Bali menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana, BKSDA Bali, BRIN, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, serta BRIDA Provinsi Bali.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melakukan adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali. Tujuannya agar keberadaan anggrek lokal tetap lestari sekaligus semakin diminati masyarakat.

“Anggrek Kembali” ke Rumah Masyarakat Bali

Putri Koster mengatakan sejumlah anggrek lokal Bali dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat.

Beberapa di antaranya adalah anggrek linjong dan anggrek Vanda tricolor. Namun, keberadaan anggrek lokal tersebut semakin berkurang dari waktu ke waktu.

“Banyak sekali anggrek lokal Bali, seperti anggrek linjong, anggrek Vanda tricolor, dan lainnya, yang dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat. Namun, setelah berpuluh-puluh tahun, keberadaannya mulai berkurang, kurang diminati, dan perlahan ditinggalkan,” ujar Putri Koster.

Melalui gerakan “Anggrek Kembali”, Putri Koster berharap anggrek lokal Bali kembali menjadi primadona di daerah asalnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, PAI Bali menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana dalam menginisiasi langkah konservasi dan pengembangan.

Pengembangan diarahkan menghasilkan anggrek lokal yang lebih unggul tanpa menghilangkan karakteristik sumber daya genetik lokal Bali.

Anggrek Lokal Berpotensi Jadi Daya Tarik Wisata

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, menyampaikan sejumlah upaya telah disiapkan.

Upaya tersebut mencakup adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali. Selain itu, dilakukan perbanyakan massal dan pengembangan anggrek lokal Bali.

Pengembangan juga diarahkan pada pembentukan desa wisata anggrek di Dusun Dosang, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Menurut Sudiarta, anggrek lokal Bali memiliki potensi besar dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata.

Keunikan anggrek lokal dapat menjadi salah satu pengalaman wisata bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Karena itu, pengembangan anggrek tidak hanya diarahkan untuk kepentingan konservasi.

Pengembangan tersebut juga diharapkan menjadi salah satu motor penggerak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan.

Anggrek sebagai Sumber Daya Genetik

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, mengatakan anggrek merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi.

Selain memiliki nilai estetika dan budaya, anggrek juga memiliki potensi sebagai sumber daya genetik.

Sumber daya tersebut dapat dikembangkan menjadi varietas unggul pada masa mendatang.

Karena itu, upaya identifikasi dan konservasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan anggrek lokal Bali.

FGD tersebut membahas berbagai aspek, mulai dari identifikasi dan karakterisasi hingga strategi konservasi, pelestarian, dan pengembangan anggrek lokal Bali.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang pertukaran informasi dan gagasan antara akademisi, peneliti, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi Akademisi, Pemerintah, dan Pemangku Kepentingan

FGD menghadirkan tiga narasumber, yakni Aninda Retno Utami Wibowo dari BRIN, Made Dwi Jayanti dari BKSDA Bali, dan Dr. I Putu Sudana dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Keterlibatan berbagai lembaga tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan anggrek lokal Bali.

Pendekatan lintas sektor diperlukan karena pelestarian anggrek tidak hanya berkaitan dengan aspek biologis.

Pengembangannya juga berkaitan dengan pertanian, penelitian, pariwisata, ekonomi masyarakat, serta pelestarian kekayaan hayati Bali.

Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan anggrek lokal diharapkan memiliki arah yang lebih terukur dan berkelanjutan.

Kegiatan FGD juga diharapkan tidak berhenti pada aspek penelitian.

Hasil pembahasan diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program pengembangan konkret yang memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.

Dengan demikian, gerakan “Anggrek Kembali” tidak hanya menjadi upaya mengembalikan popularitas anggrek lokal Bali.

Gerakan tersebut diharapkan menjadi langkah bersama dalam menjaga kekayaan sumber daya genetik Bali sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Ditulis oleh Admin Diterbitkan pada 11 September 2026