HUT ke-3 Forgas Bali, Wagub Giri Prasta: Bali Boleh Maju, tetapi Jangan Kehilangan Akar Budaya

A
Ditulis oleh Admin
Diterbitkan pada 11 September 2026
Sedang Mendengarkan
HUT ke-3 Forgas Bali, Wagub Giri Prasta: Bali Boleh Maju, tetapi Jangan Kehilangan Akar Budaya

Wagub Giri Prasta dorong penguatan adat dan budaya melalui kolaborasi, kaderisasi generasi muda, serta pemanfaatan teknologi di desa.

DENPASAR — Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menghadiri Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Forum Gerakan Adat Se-Nusantara (Forgas) Bali di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Denpasar, Rabu (9/9/2026).

Peringatan HUT ke-3 Forgas Bali mengusung tema “Strategi Ngemargiang Sad Kerthi Loka Bali, Ngajegang Tradisi, Adat lan Budaya Nusantara.”

Wagub Giri Prasta mengapresiasi keberadaan Forgas sebagai wadah pemersatu. Ia menilai Forgas memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian adat, tradisi, agama, seni, dan budaya Nusantara.

Di tengah derasnya pengaruh budaya luar, Forgas diharapkan konsisten menjaga nilai luhur dan kearifan lokal. Nilai tersebut perlu diwariskan kepada generasi mendatang.

“Bali boleh maju, tetapi kemajuannya jangan sampai menggerus akar budaya, adat, dan tradisi,” tegas Giri Prasta.

Jaga Kerukunan dan Jati Diri Bali

Giri Prasta menitipkan pesan agar Forgas terus mengedepankan kerukunan umat beragama. Kerukunan tersebut mencakup hubungan antarumat beragama maupun intern umat beragama.

Dalam kehidupan masyarakat Bali, kerukunan juga perlu diperkuat melalui komitmen menjalankan adat dan dresta Bali.

Menurutnya, adat dan dresta merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat Bali.

Ia juga mengingatkan pesan yang dikaitkan dengan Bung Karno. Dalam menjalankan keyakinan, masyarakat Indonesia tidak boleh kehilangan identitas sebagai bangsa Nusantara.

Pesan tersebut dinilai tetap relevan di tengah perkembangan global dan derasnya pengaruh budaya luar.

Giri Prasta menegaskan bahwa Bali diwariskan para leluhur dengan kekuatan adat, tradisi, budaya, agama, dan seni.

Seluruh unsur tersebut membentuk taksu Bali yang harus dijaga bersama. Kemajuan Bali tidak boleh menghilangkan identitas dan akar budayanya.

Sad Kerthi Harus Diterjemahkan dalam Gerakan Nyata

Semangat tersebut sejalan dengan visi pembangunan Bali, “Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.”

Giri Prasta menilai tema HUT ke-3 Forgas memiliki kesamaan semangat dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Bali.

Keduanya sama-sama menempatkan keharmonisan dan kelestarian Bali sebagai bagian penting pembangunan.

Menurut Giri Prasta, nilai Sad Kerthi harus diterjemahkan dalam gerakan nyata.

Atma Kerthi dapat diwujudkan melalui pemeliharaan kehidupan spiritual, ritual, dan upacara adat.

Jana Kerthi diwujudkan melalui pelibatan lintas generasi dalam menjaga keberlanjutan adat, tradisi, dan budaya.

Sementara Jagat Kerthi bermuara pada terciptanya keharmonisan kehidupan di tengah keberagaman masyarakat Nusantara.

Ia menegaskan bahwa menjaga adat bukan berarti menutup diri dari kemajuan. Demikian pula menjaga tradisi tidak berarti menolak perkembangan zaman.

Masyarakat Bali harus mampu mengikuti kemajuan tanpa kehilangan pijakan budaya dan jati diri.

Dorong Digitalisasi Desa Adat

Sejalan dengan semangat tersebut, Giri Prasta juga mendorong pemanfaatan teknologi melalui penerapan desa digital.

Digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung transparansi berbagai kegiatan di tingkat banjar maupun desa.

Termasuk dalam pengelolaan dana kegiatan keagamaan, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai penggunaan dan peruntukannya.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian adat. Digitalisasi justru dapat menjadi instrumen untuk memperkuat tata kelola masyarakat.

Giri Prasta mengajak seluruh jajaran dan anggota Forgas di kabupaten/kota bergandengan tangan dengan Pemerintah Provinsi Bali.

Kolaborasi tersebut diperlukan untuk menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat pembangunan Bali.

Ia berharap kerja sama yang telah terbangun selama tiga tahun menjadi fondasi bagi kolaborasi yang lebih luas.

Forgas Perkuat Kaderisasi Generasi Muda

Ketua DPD Forgas Bali Kadek Arya Bagiastra menyampaikan komitmen Forgas untuk berjalan beriringan dengan program dan visi Pemerintah Provinsi Bali.

Komitmen tersebut terutama diarahkan pada pelestarian dan perlindungan adat serta budaya Bali.

Forgas juga berupaya menjaga budaya Bali dari pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai dan kultur masyarakat Bali.

Memasuki usia tiga tahun, Forgas berkomitmen semakin solid dan dewasa. Organisasi tersebut juga ingin memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kedamaian, toleransi, dan keberagaman.

Ke depan, Forgas akan memperkuat sinergi dengan desa adat. Kaderisasi generasi muda juga menjadi perhatian dalam gerakan tersebut.

Generasi muda didorong tetap mengenal, menggunakan, dan melestarikan bahasa serta aksara Bali sebagai bagian dari warisan leluhur.

Forgas juga diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai elemen kebudayaan Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Gerakan adat, menurutnya, tidak harus bersifat eksklusif. Pelestarian akar budaya dapat berjalan seiring dengan keterbukaan terhadap keberagaman dan perkembangan zaman.

Semangat tersebut menempatkan Forgas bukan sebagai gerakan yang menolak kemajuan. Sebaliknya, gerakan tersebut memastikan kemajuan tidak menghapus identitas.

Komitmen itu sekaligus berpijak pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditulis oleh Admin • Diterbitkan pada 11 September 2026