Senin, 25 September 2017

Tangani Kasus DBD, Wagub Sudikerta Mintaa Rumah Sakit Lakukan Respon Cepat

Rabu, 27 April 2016



Terkait penangan kasusDemam Berdarah Dengue (DBD) yang marak tejadi belakangan ,   Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta meminta kepada seluruh Rumah Sakit dan para tenaga medisnya untuk melakukan  pelayanan kepada para pasien DBD secara maksimal , khususnya pemberian pertolongan pertama. “Saya himbau dan tekankan kepada Rumah Sakit yang ada di seluruh Bali baik Daerah maupun Swasta  agar apabila terdapat masyarakat yang datang meminta pelayanan, agar penanganan pertama terhadap pasien DBD optimal diberikan, untuk mengantisipasi kejadian buruk lainnya,”tegas Sudikerta. Ia juga menghimbau agar pihak rumah sakit melakukan upaya penyediaan  tempat yang layak bagi para pasien. Demikian disampaikannya saat diwawancara dengan awak media di Dinas Kesehatan Provinsi Bali , Selasa (26/5).

Lebih lanjut, Sudikerta juga mengungkapkan bahwa selain respon penanganan yang cepat terhadap pasien DB, Wagub juga menekankan pentingnya pencegahan dengan melakukan gerakan  3M yaitu menguras tempat penampungan air secara rutin minimal ketika air sudah mulai keruh, mengubur barang – barang yang tidak terpakai yang dapat memungkinkan terjadinya genangan air dan  Menutup menutup tempat-tempat penampungan air, khususnya yang menjadi konsumsi tiap hari. Wagub juga menyoroti pentingnya pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa. “Maka, dengan melakukan berbagai kegiatan pencegahan tersebut kita harapkan  penyebaran demam berdarah di Bali dapat ditekan semaksimal mungkin,” ujar orang nomor dua di Bali tersebut.

Sementara itu Kepala Dinas Kepala Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, mengungkapkan bahwa dari bulan Januari- April 2016  terdapat 24 orang yang meninggal dari 5300 kasus DBD yang terjadi di Bali. Menurutnya,  penanganan DBD tersebut  sudah dilakukan dengan benar sesuai dengan standar operating procedur (SOP) pada rumah sakit maupun puskesmas yang ada di Bali,  namun kasus-kasus kematian pada DB yang  sering terjadi merupakan akibat dari keterlambatan diagnosa. “ Jadi misalnya panas yang sudah terjadi beberapa hari tidak disadari itu adalah DB,  sehingga pada saat  datang kerumah sakit sudah  dalam keadaan fase shock, namun ketika pasien tersebut datang pada fase awal maka dapat disembuhkan dengan regiment biasa”, ujarnya. Menurutnya terdapat tiga cara dalam mengobati DB yaitu pasien harus istirahat total, kedua dengan pemberian rehidrasi atau cairan  baik itu infus maupun minuman oral kepada pasien, ketiga  pemberian vitamin dan stimulus untuk peningkatan daya tahan tubuh pasien. Sehingga dalam waktu lima hari virus DBD akan semakin berkurang dengan ditandai peningkatan trombosit pada hari keenam. Selain itu, Ia juga mengungkapkan bahwa penyebarah virus DBD juga tergantung dari curah hujan, dimana fase tersebut dimulai dari bulan Januari-Mei, sehingga diharapkan pencegahan DBD dapat dilakukan beberapa bulan sebelum itu, seperti pada bulan September dengan cara melakukan 3M tersebut. Dengan dilakukan upaya pencegahan tersebut maka virus DBD tidak akan menyebar terlalu luas.