Senin, 25 September 2017

Pengangguran di Pulau Surga (Bagian 2-Habis) Bali Mandara Menopang Kualitas Naker oleh Dewa Gede Mahendra Putra, Karo Humas Setda Provinsi Bali

Jumat, 22 Mei 2015



PADA dasarnya setiap manusia hidup harus bekerja dan mempunyai pekerjaan. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan hidup baik untuk dirinya sendiri maupun untuk diri orang lain, dan atau kedua-duanya. Masalah pekerjaan ini merupakan masalah yang kompleks dan serius.

Kualitas tenaga kerja kerja di Provinsi Bali terbilang sudah cukup baik. Namun, masih juga terdapat tenaga kerja dengan kualitasnya yang rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya pendidikan, selain itu penyebab lainnya di antaranya rendahnya tingkat penguasaan teknologi, terbatasnya fasiltas infrastruktur, kemampuan bekerja keras yang rendah, faktor usia dan faktor-faktor lainnya.

Naker gaptek

Sebagian besar tenaga kerja tidak memiliki keahlian dan keterampilan khusus. Rendahnya tingkat pendidikan tenaga kerja Indonesia akan membuat tenaga kerja tidak mampu dalam menguasai ilmu teknologi, dapat disebut juga tenaga kerja gagap teknologi (gaptek) Pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi pasti akan sulit dimengerti oleh tenaga kerjanya. Sehingga hasil kerjanya pun otomatis akan berkualitas rendah. Dan akhirnya daya saingnya rendah pula.

Terbatasnya fasilitas-fasilitas infrastruktur akan mengakibatkan produksi barang semakin rendah. Jika fasiltas infrastruktur atau alat yang hendak dipergunakan terbatas, tenaga kerja terpaksa memilih membuatnya dengan olahan tangan sendiri. Hal tersebut belum tentu beroleh hasil yang bermutu tinggi, sehingga daya saing barang produksi tersebut kalah banding dengan barang produksi negara lain. Hal itulah yang menyebabkan kualitas tenaga kerja Indonesia semakin rendah.

Tenaga kerja yang tidak mampu bekerja keras dan tidak produktif, dapat menjadi salah satu penyebab kualitas kerja rendah. Hal tersebut dinyatakan berdasarkan seberapa mampu kerja keras tenaga kerja. Apabila tenaga kerja tidak mampu bekerja keras, maka hasilnya pun akan kurang baik atau kurang berkualitas. Kemampuan kerja keras tenaga kerja dapat ditinjau dari kesehatan maupun kondisi fisiknya. Semakin sehat keadaan tenaga kerja, maka hasil kerja akan semakin bagus dan berkualitas, justru sebaliknya semakin buruk keadaaan tenaga kerja, maka hasil pekerjaannya akan semakin buruk pula atau tidak berkualitas.

Selain kesehatan, perbandingan antara SDM (Sumber Daya Manusia) dengan SDA (Sumber Daya Alam) sangat renggang. Sumber daya manusia lebih sedikit dibandingkan sumber daya alam. Hal ini disebabkan manusia yang tinggal di daerah subur terlena akan kekayaan sumber daya alam yang terdapat di sekelilingnya sehingga malas untuk mengeksploitasikan sumber daya alam. Indonesia merupakan negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Sedangkan jika dibandingkan dengan negara Jepang yang sumber daya alamnya sedikit serta kondisi geografis dengan bentuk negara kepulauan dan rawan bencana, membuat masyarakat Jepang kebanyakan bersifat pekerja keras karena bermotivasi untuk maju juga tidak mau kalah dari negara lain yang kaya akan sumber daya alam sehingga dapat menghasilkan hasil produksi seperti barang elektronik, alat transportasi, mainan, makanan, dan lainnya yang berkualitas.

Tenaga kerja Indonesia yang usianya lebih dari usia produktif (manula) biasanya kemampuan bekerjanya kurang, karena tenaga kerja tersebut belum tentu bermental bagus. Sehingga dapat menghasilkan kualitas kerja yang rendah. Usia yang lebih baik dan cocok untuk menjadi tenaga kerja ialah usia produktif, yakni dari 15-44 tahun agar hasil kerjanya lebih baik.

Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu atau kualitas tenaga kerja di Bali yaitu : latihan kerja, pemagangan, dan meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Latihan kerja merupakan proses pengembangan keahlian dan keterampilan kerja yang langsung dikaitkan dengan pekerjaan dan persyaratan kerja. Dengan kata lain, latihan kerja berkaitan dengan pengembangan profesionalisme tenaga kerja. Dalam kaitannya dengan peningkatan mutu kerja, latihan kerja dapat berfungsi sebagai suplemen ataupun komplemen terhadap pendidikan formal.

Pemagangan adalah latihan kerja langsung ditempat kerja. Jalur pemagangan ini bertujuan untuk memantapkan profesionalisme yang dibentuk melalui latihan kerja. Dengan bimbingan dan pengalaman yang terus-menerus dalam dunia kerja maka profesionalisme tenaga kerja akan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan keterampilan yang dipelajari selama magang pada suatu perusahaan.

Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan dengan cara memperbaiki ataupun memantapkan sistem pendidikan di Indonesia khususnya di Bali. Pemerintah dapat membuka sekolah menengah kejuruan (SMK) yang berkualitas di seluruh daerah kabupaten Provinsi Bali.

Solusi

Untuk dapat menyelesaikan problem ketenagakerjaan perlu mencermati secara lebih mendalam berbagai persoalan ketenagakerjaan yang ada, maka masalah tersebut berpangkal dari persoalan pokok upaya pemenuhan kebutuhan hidup serta upaya meningkatkan kesejahteraan hidup.

Persoalan pemenuhan kebutuhan pokok, baik kebutuhan akan barang, seperti pangan, sandang dan papan, maupun jasa seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan adalah akar penyebab utama sekaligus faktor pendorong terjadinya permasalahan ketenagakerjaan.

Terjadinya kelangkaan lapangan kerja menyebabkan sebagian anggota masyarakat menganggur dan ini berdampak pada ketidakmampuan mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. Terjunnya kalangan wanita dan anak-anak ke dunia ketenagakerjaan tidak terlepas dari upaya mereka untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarganya sekaligus dalam rangka meningkatkan kesejahteran hidup.

Secara umum kita dapat mengatasi berbagai masalah ketenagakerjaan melalui berbagai upaya praktis seperti mendorong investasi, meningkatkan fleksibilitas tenaga kerja, dan peningkatan keahlian pekerja.Mengharapkan investasi dari luar negeri kenyataannya belum menunjukkan hasil yang berarti selama beberapa tahun. Para investor asing mungkin masih menunggu adanya perbaikan iklim investasi dan beberapa peraturan yang menyangkut aspek perburuhan. Kalau upaya terobosan lain tidak dilakukan, khawatir masalah pengangguran ini akan bertambah terus pada tahun-tahun mendatang.

Beberapa produk perikanan dan kelautan juga sangat potensial untuk dikembangkan seperti udang, ikan kerapu dan rumput laut dan beberapa jenis budidaya perikanan dan kelautan lainnya. Sektor industri manufaktur dan kerajinan, khususnya untuk industri penunjang - supporting industries seperti komponen otomotif, elektronika, furnitur, garmen dan produk alas kaki juga memberikan kontribusi besar dalam pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja. Penulis juga mencermati banyak sekali produk-produk IT dan industri manufaktur yang sangat dibutuhkan, baik untuk pasar lokal, maupun untuk pasar luar.

Terkait upaya Pemprov Bali pemerintah meningkatkan fleksibilitas tenaga kerja dan mengurangi pengangguran yang berujung kemiskinan, ada beberapa langkah praktis yang telah diambil. Semuanya diakomodasi dalam program-program Bali Mandara. Terutama yang bersentuhan langsung dengan upaya meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat.

Kegiatan tersebut antara lain beasiswa miskin jenjang SMP, bantuan biaya pendidikan/pemberian beasiswa SD yang berasal dari keluarga kurang mampu, bantuan dana pendamping BOS SMP Swasta, bantuan dana pendamping BOS SD, beasiswa miskin tamatan SMP ke SMKN 1 Denpasar, beasiswa miskin jenjang SMA dan SMK, beasiswa miskin tamatan SMP ke SMKN se-Bali, biaya operasional pendidikan bagi siswa SMK Swasta, biaya operasional pendidikan bagi siswa SMA Swasta, serta bantuan peningkatan sarana dan prasarana PAUD, SD, SMP, SMK (desa tertinggal).

Ada juga program yang sudah direalisasikan seperti penyelenggaraan keaksaraan fungsional tingkat mandiri, bantuan peningkatan sarana dan prasarana PAUD, SD, SMP, SMK (desa tertinggal), serta bantuan pendidikan kecakapan hidup bagi masyarakat.

Program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan diberikan berupa bantuan beasiswa miskin dan berprestasi pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, beasiswa miskin pada fakultas langka peminat, beasiswa miskin pada Fakultas Kedokteran dari SMA Bali Mandara, beasiswa miskin pada Politeknik Negeri Bali, dan beasiswa miskin pada Akademi Kebidanan

Semua program itu terindikasi mampu menopang peningkatan kualitas pendidikan masyarakat yang bermuara pada pengurangan pengangguran dan kemiskinan. Dalam skala makro, ke depan, pemerintah Provinsi Bali bertekad berjuang ke tingkat nasional untuk mendorong adanya kebijakan strategis dan politis. Pertama, mendorong penyelesaian pelaksanaan perundang-undangan tenaga kerja dan berkonsentrasi pada dua isu utama yang mendapat perhatian para pengusaha yaitu: i) keleluasaan dalam mempekerjakan pekerja kontrak dan ii) keleluasaan dalam melakukan outsourcing, dengan menekankan para sub-kontraktor untuk memenuhi hak-hak pekerja mereka.

Kedua, menciptakan peradilan tenaga kerja, sebagaimana yang diatur dalam undang-undang perselisihan hubungan industrial. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penyelesaian perselisihan tenaga kerja. Ketiga, membentuk tim ahli dalam menentukan tingkat upah minimum. Pemerintah pusat dapat menjalankan kewenangan untuk membatasi peningkatan upah minimum di daerah.

Keempat, jika diperlukan, merevisi Undang-undang mengenai Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional yang baru disahkan dan membentuk komisi tingkat tinggi yang bertugas mendesain sistem kesejahteraan nasional. Sistem ini harus dapat dilaksanakan dan mendukung penciptaan lapangan pekerjaan. (*)