Selasa, 22 Agustus 2017

INFO SIMANTRI

Jumat, 16 September 2011



Simantri 005

Mengolah Kakao Libatkan Wanita Tani

 
Simantri005
Hamparan tanaman kakao di kiri dan hamparan sawah di kanan, ketika kami memacu kendaraan menuju lokasi Simantri 005/2009 Gapoktan Sumber Urip desa Pengeragoan kecamatan Pekutatan kabupaten Jembrana. Ketua Gapoktan I Made Sunantra dan beberapa warga sudah menunggu kedatangan Tim Monitoring dan Evaluasi Simantri Provinsi Bali di Bale Mina Sejahtera, Senin (12/9).

Simantri yang dibentuk tahun 2009 ini masih terlihat antusias dalam mengelola bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi Bali. Hal ini terlihat dari beberapa perkembangan yang mulai nampak secara mencolok. Perkembangan Gapoktan Sumber Urip antara lain sapi dari 20 ekor induk telah berkembang menjadi 40 ekor, terdiri dari 20 ekor induk dan 20 ekor anak. Namun pada perkembangan selanjutnya 3 ekor induk dan 5 ekor anak mati sehingga saat ini sisa 17 ekor induk dan 15 ekor anak. Ternak sapi ini dikelola sesuai kesepakatan bagi hasil dengan perbandingan 10% Gapoktan dan 90% pengadas. Besarnya persentase bagi pengadas menurut salah seorang anggota karena tidak ada anggota yang mau jadi pengadas, sehingga dengan kesepakatan seperti itu keuntungan yang didapat kelompok juga akan kecil.

Pemanfaatan Biogas telah dipakai oleh dua keluarga, dengan daya tampung 11 m3 hanya mampu menyala 3 jam per hari. Produksi biourine baru bisa menghasilkan 1500-2000 liter dalam dua minggu dan sampai saat ini sudah menghasilkan 8.000 liter biourine yang dipakai untuk memupuk tanaman kakao anggota kelompok. Sayangnya gapoktan belum menjual hasil urine sehingga belum menikmati hasil pendapatan dari biourine.

Perkembangan yang paling mencolok adalah pengolahan kakao fermentasi yang dilakukan oleh para wanita tani telah berjalan baik. Petani kakao yang dulunya menjual hasil panen langsung ke pengepul, sekarang sudah mulai menjual ke kelompok ini. Sucita, salah satu anggota menuturkan hasil kakao dari lahan miliknya dulu dijual langsung ke pengepul dengan harga kisaran 6.500 rupiah per kilogram. Sekarang dijual kepada kelompok untuk diolah fermentasi dengan harga 7.500 rupiah per kilogram. Hasil kakao dari lahan miliknya seluas 1,75 hektar yang ditanam secara tumpangsari menggunakan pupuk kandang dari kotoran ayam. "Dulu saya memakai pupuk dari pabrik, lama kelamaan tanah jadi keras apalagi kalau musim keringsering pecah-pecah dan sangat keras. Setelah pakai kotoran ayam hasilnya bagus, panennya lebih lama," ujar Sucita. Dia mengaku ingin membeli kompos dan urine dari kelompok tapi selalu kehabisan sehingga terpaksa membeli kotoran ayam sebanyak 400 kampil dengan harga 900 ribu rupiah. Kotoran ayam tersebut langsung disebar dan tidak diolah terlebih dahulu menjadi kompos yang baik.

I Made Sentana membenarkan memang produksi kompos dan biourine masih terbatas jumlahnya sehingga tidak semua anggota kebagian. Namun pemakaian bahan organik ini hasilnya cukup menggembirakan. Kakao yang biasanya panen satu periode dalam setahun yaitu mei-juni, sekarang sudah menjadi dua periode yaitu september - oktober. "Sehingga rantang panennya lebih lama jika memakai pupuk kompos dan biourine," ujarnya.
Produksi kakao Simantri 005 saat ini cukup lumayan. Menurut Nyoman Warini ketua kelompok Pengolah Kakao, kelompoknya telah memproduksi kakao fermentasi mencapai 3,3 ton. Walaupun terbilang baru pengolahan ini mampu mengirim 5 kwintal sekali kirim kerjasama dengan eksportir Bumi Tangerang. Harga kakao pruduksi Simantri ini dihargai Rp. 24.300,- per kilogram. "Ini karena pengeringannya tergantung cuaca sehingga kandungan airnya masih tinggi," kata Warini.

Selain cuaca kendala teknis yang dihadapi adalah alat pengetes kadar air yang sudah rusak sehinga dia tidak tahu kadar airnya sudah sesuai dengan yang dipersyaratkan apa belum. Dalam permodalan kelompoknya juga masih lemah sehingga tidak bisa membeli bahan baku kakao lebih banyak dari petani. "Padahal kalau kadar airnya sesuai harganya bisa mencapai Rp 27.000,- per kilogram," ujarnya. Nyoman Warini berharap kedepan kelompok pengolah kakao ini mendapat bantuan dan perhatian yang lebih agar masalah tersebut dapat diatasi, semua anggota bisa meningkatkan pendapatannya dari penjualan kakao. (Xna)

 

 


 

SIMANTRI 026

simantri026GAPOKTAN BATUR IBU MEMERAH SUSU

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Batur Ibu berada di desa Munduk Temu, kecamatan Pupuan, kabupaten Tabanan. Dua kelompok tani dari anggota gapoktan ini adalah kelompok tani Kerta Sari dan kelompok wanita tani (KWT) Kerta Sari. Kedua kelompok tani tersebut mempunyai ikatan kerjasama yang erat dan berlokasi di satu banjar dari desa Munduk Temu yakni banjar Angga Sari Kelod. Usaha pokok kelompok tani Kerta Sari adalah budidaya kambing jenis peranakan etawa yang dikenal dengan sebutan kambing PE. Sebagian dari kambing kelompok diperoleh dari Pemerintah Provinsi Bali, malalui program system pertanian terintegrasi (Simantri) tahun 2010 sebanyak 47 ekor, yang terdiri dari 42 ekor betina dan 5 ekor jantan. Gapoktan Batur Ibu merupakan gapoktan ke-26 dari 40 gapoktan yang dibina melalui program Simantri dalam tahun 2010, oleh sebab itu Gapoktan Batur Ibu disebut juga Simantri 026/2010. Kelompok yang berdomisili di daerah perkebunan ini memelihara kambing berintegrasi dengan tanaman buah-buahan dan tanaman kebun lainnya. Pakan kambing berupa dedaunan tersedia dalam jumlah banyak, bersumber dari tanaman yang ada di sekitarnya, yang tumbuh subur karena mendapat pupuk dari kotoran kambing. Sampai dengan bulan Juli 2011, kambing-kambing betinanya telah melahirkan anak sebanyak 13 ekor, dan sebagian lagi sedang bunting. Usaha peternakan kambing terintegrasi yang ditekuni Kelompok tani Kerta Sari, didampingi Ir. Ni Nyoman Sudiasih, selama setahun ini, telah memberikan hasil berupa anak kambing, pupuk padat berbahan kotoran kambing, pupuk cair dari air kencing kambing, buah-buahan yang bermutu baik terutama salak dan pisang. Ternak kambing selain memproduksi anak juga diperah susunya. Menurut ketua gapoktan bapak Suparta produksi susu kambing masih sedikit, baru cukup untuk dikonsumsi oleh peternak sendiri. Selanjutnya Gapoktan Batur Ibu akan memerah susu kambingnya secara intensif agar mendapatkan produksi susu yang lebih banyak, untuk lebih meningkatkan gizi keluarga anggota kelompoknya. Pemerahan susu kambing pada umumnya dilakukan oleh ibu-ibu anggota KWT Kerta Sari. Para ibu ini terampil memerah susu kambing setelah mendapatkan bimbingan teknis cara memerah dan mengolah susu. (Lees-Xna).  


 

SIMANTRI 033

NAMA GAPOKTAN/POKTAN: Gapoktan Gunung Sari
ALAMAT : Desa Gunksa, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

 

 

SIMANTRI 034

NAMA GAPOKTAN/POKTAN: Gapoktan Subur Tani.
ALAMAT :Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.