Rabu, 30 Januari 2013

Bali Mandara, Program Pro Rakyat Tekan Angka Kemiskinan

Pelaksanaan berbagai program Bali Mandara yang diluncurkan oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika telah memasuki tahun kelima. Upaya pengentasan kemiskinan merupakan salah satu fokus dari berbagai program pro rakyat yang dilaksanakan Gubernur Mangku Pastika beserta jajaran. Pelan tapi pasti, berbagai program yang dilaksanakan terbukti mampu menurunkan jumlah penduduk miskin. Data resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menyebutkan, presentase penduduk miskin di Bali pada September 2012 hanya tersisa 3,95 persen atau sebanyak 160.950 jiwa. Jumlah tersebut tentunya sudah jauh lebih kecil jika dibandingkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2008 yang tercatat sebesar 6,17 persen. Itu artinya, penurunan angka kemiskinan Bali mendekati presentasi 50 persen. Bali pun menduduki peringkat II setelah DKI Jakarta yang presentase penduduk miskinnya sebesar 3,70 persen.
Penurunan angka kemiskinan tersebut bukan semata di tataran angka-angka. Dalam aktualisasi, berbagai dampak nyata program Bali Mandara sangat dirasakan oleh masyarakat. Desa Pengotan, Bangli merupakan salah satu desa yang merasakan dampak positif berbagai program Bali Mandara. Bahkan, secara nyata angka kemiskinan di desa ini berhasil dikurangi hingga lebih dari 50 persen dalam kurun waktu empat tahun. Hal tersebut disampaikan Perbekel Desa Pengotan Wayan Arsana dalam penyerahan Program Gerbangsadu oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika kepada kelompok ekonomi produktif di Pasar Desa Pengotan baru-baru ini.
Lebih jauh Arsana mengurai, Desa Pengotan yang berpenduduk 1315 KK atau 3617 jiwa. Pada catatan tahun 2008, desa ini mengantongi 517 KK miskin. Pada tahun 2012, tambah Arsana, penduduk miskin di wilayahnya bisa dikurangi hingga hanya tersisa sebanyak 295 KK. "Berkurangnya penduduk merupakan dampak positif dari pelaksanaan berbagai program Bali Mandara seperti JKBM, bedah rumah, simantri dan program Gerbangsadu," urainya.
Lebih jauh Arsana mengurai, banyak masyarakatnya yang telah memanfaatkan Program JKBM. “Dengan program JKBM, masyarakat kami tidak perlu lagi memikirkan biaya ketika harus berobat saat sakit,” ujarnya. Karena itu Arsana berharap agar program Bali Mandara bisa dilanjutkan.
Hal senada juga diungkapkan Kepala Dusun Bayad, Tegallalang, Gianyar I Ketut Sunarta. Ditemui di sela-sela kegiatan Sosialisasi Program Bali Mandara Melalui Pentas Seni Tradisional, Sunarta mengatakan kalau Program Bali Mandara merupakan terobosan yang luar biasa. Berbagai program Bali Mandara seperti JKBM sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat khususnya golongan menengah ke bawah. Selain JKBM, program bedah rumah dan Simantri juga mendapat apresiasi masyarakat Dusun Bayad. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Bendesa Pakraman Bayad I Made Latra. “Banyak warga yang terselamatkan karena program JKBM. Bahkan ada warga kami yang memanfaatkan layanan cuci darah dua kali seminggu, bayangkan saja kalau tidak ada program JKBM,” imbuhnya.
AA.Nyoman Wijana, Ketua Kelompok Simantri 027 Desa Kelating Tabanan khusus mengapresiasi program Simantri. Program Simantri, tambah Wijana, secara perlahan mampu mewujudkan harapan para petani untuk meningkatkan kesejahteraannya. “Ini merupakan program luar biasa di bidang pertanian,” imbuhnya. Hanya saja, kata Wijana, para petani memang perlu lebih kreatif dan bekerja keras agar hasilnya lebih maksimal. Dia berharap, berbagai program Bali Mandara yang manfaatnya benar-benar telah dirasakan oleh masyarakat dilanjutkan.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengapresiasi pelaksanaan berbagai Program Bali Mandara yang mendapat sambutan positif dari masyarakat. Pun demikian, Mangku Pastika tak lantas berpuas diri dengan pencapaian berbagai program ini. “Kita memang sudah berupaya maksimal melaksanakan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dalam kesempatan menginap di bedah rumah seorang warga di Banjar Palaktihing, Desa Landih, Kabupaten Bangli.
Namun demikian, berbagai program itu masih memerlukan penyempurnaan. Terlebih lagi program Gerbangsadu yang memang baru dilaksanakan sejak tahun 2012. Gubernur pun bertekad mempercepat penuntasan pengentasan kemiskinan di Pulau Dewata. Bagi seorang Mangku Pastika, keberadaan masyarakat miskin selalu menjadi beban pikirannya. “Karena saya pernah hidup serba kekurangan di masa kecil, makanya saya bisa merasakan susahnya jadi orang miskin,” imbuhnya.
Sejalan dengan tekadnya itu, mulai tahun 2013 ini, Gubernur Mangku Pastika melaksanakan kegiatan menginap di rumah warga penerima program bedah rumah. Selama bulan Januari 2013, tercatat sudah dua kali Gubernur yang didampingi Ny.Ayu Pastika menginap di bedah rumah yaitu di Banjar Putung, Desa Duda Timur Karangasem dan Banjar Palaktihing, Desa Landih, Kabupaten Bangli.
Gubernur Mangku Pastika menilai kegiatan nginep di rumah penduduk penerima bantuan bedah rumah banyak memberi insfirasi guna mempercepat penuntasan masalah kemiskinan.
Selama ini, kata Mangku Pastika, pemerintah telah memberikan bantuan berupa bedah rumah, kesehatan dan pendidikan bagi mereka. "Tapi ternyata itu belum cukup membuat mereka benar-benar keluar dari kemiskinan," imbuhnya. Kata Mangku Pastika, masyarakat kurang mampu masih membutuhkan mata pencaharian yang lebih baik. Salah satunya melalui program untuk menggerakkan ekonomi produktif di perdesaan. "Mereka perlu ketrampilan untuk menghasilkan produk-produk yang bernilai ekonomis. Selain itu kita juga harus memikirkan bagaimana pemasarannya," tandasnya. Untuk itu, Pemprov Bali akan lebih memantapkan program Gerbangsadu agar dana yang disalurkan dapat bergulir. Ke depannya, Gubernur berharap akan lebih banyak lagi desa yang memperoleh program ini.

Help Desk

Keluhan Masyarakat

Statistik Website :